Kisah burung hantu di desa gledeg klaten yang pada awalnya untuk mengusir tikus sekarang menjadi maskot. Serangan tikus sempat membuat petani yang berada di Desa Gledeg, Kecamatan Karanganom, Klaten, kelimpungan. Pasalnya, Selama 2 tahun 2010-2011, binatang pengerat tersebut membuat petani gagal panen hingga tidak mendapatkan hasil apa pun dari lahan pertanian mereka.
Berbagai cara telah dilakukan petani. Namun, populasi tikus belum juga bisa dikendalikan. Sampai para petani memperoleh literatur soal desa di Kabupaten Demak yang bisa mengendalikan tikus menggunakan musuh alami. Yaitu Tyto alba atau burung Serak Jawa yang dikenal sebagai burung hantu muka monyet.
Para petani kemudian studi banding ke Demak. Dari hasil studi banding tersebut, petani dan pemerintah desa sepakat untuk mengembangkan kandang karantina serta mendirikan rumah burung hantu (rubuha) di sawah pada tahun 2012.
Kisah Burung Hantu Di Desa Gledeg, Karanganom, Klaten
Lambat laun jumlah rumah burung hantu (Rubuha) semakin bertambah. Pada awalnya Rubuha dibangun mengunakan kayu. Namun, 2 tahun dipasang kemudian rusak. Sesudah itu, Mulai dibangun Rubuha permanen. Perkembangannya sampai saat ini telah ada hampir 70 Rubuha di sawah.
Keberadaan Tyto alba yang dibiarkan bebas berkeliaran serta tinggal di Rubuha sudah mulai membuahkan hasil. Burung tersebut memangsa tikus sampai keberadaan hama pertanian tersebut dapat dikendalikan. Para petani dapat kembali menikmati hasil panen mereka.
Selain mengembangkan penangkaran serta Rubuha, Pemerintah Desa (Pemdes) Gledeg juga membuat Peraturan Desa (Perdes) No. 3/2012 tentang Larangan Memburu Burung Hantu. Selain itu, Pemdes Gledeg juga membuat larangan aktivitas untuk berburu binatang seperti ikan dan belut dengan cara menyetrum.
Aturan tersebut dibuat supaya ekosistem di Gledeg tetap terjaga. Tyto alba tidak hanya membantu para petani Gledeg supaya tetap panen. Tetapi dengan banyaknya Rubuha membuat desa tersebut mulai dikenal dengan adanya burung hantunya.
Untuk mengukuhkan sebagai desa yang mengembangkan penangkaran serta Rubuha, pemdes setempat berencana untuk membangun taman bernama Tyto Alba Land. Patung Tyto Alba menjadi maskot di taman tersebut. Taman tersebut rencananya akan dibangun di tanah kas desa setempat seluas 1.500 meter persegi.
Taman tersebut diharapkan menjadi pusat keramaian baru di wilayah Karanganom. Rencananya pembangunan taman setelah 2020 yang sebelumnya merampungkan terlebih dahulu pembangunan gedung kesenian dan olahraga.
Terima kasih telah mengunjungi website kami.
Share jika bermanfaat, jika ada kritik, tambahan dan saran silakan hubungi kami atau silakan isi di kolom komentar/review.
sumber : soloraya.solopos.com